Jumat, 01 Mei 2009

Mutiara” Itu Tengah Bersinar di Barat

Mutiara” Itu Tengah Bersinar di Barat
13 April 2009 15:53:58 Oleh: Muhammad Soffa Ihsan

Islam adalah agama yang paling cepat berkembang di dunia sekarang ini, tetapi agama yang paling kurang difahami oleh Barat. Konflik berabad-abad antara dunia Islam dan Barat telah menyebabkan timbulnya prasangka pada kedua belah pihak.

Namun, sisi spiritual Islam mungkin dapat membantu menjembatani jurang yang ada, ketika sisi Islam itu sekarang secara tak diduga mengalami kebangkitan justru di negara-negara Barat.

Sisi spiritual Islam ini sering disebut sebagai bunganya Islam. Lembut, introspektif, dan sangat spiritual. Itulah sufisme, tradisi mistik Islam yang mengajarkan cinta-kasih, perdamaian dan toleransi yang bersifat universal. Sheikha Fariha adalah seorang guru sufi terkemuka di kota New York. Ia mengatakan,”Sufisme adalah jantung Islam. Inilah, intisari berlian Islam. Tanpa sufi, Islam tidak lengkap. Islam akan kering.” Menurutnya, inti kandungan kitab suci al-Quran adalah pesan sederhana mengenai cinta-kasih dan rasa syukur kepada Tuhan dan semua mahluk.

Kabir Helminski, seorang pakar sufi yang buku-bukunya telah mempopulerkan Sufisme di Barat, mengatakan al-Quran mendukung pandangan sentral sufisme, bahwa manusia harus senantiasa ingat dan memuji keagungan Tuhan dalam hatinya. Ia mengatakan,”Al Quran menyebutkan tentang pentingnya hati manusia sebagai alat persepsi. Juga dikatakan dalam kitab suci itu bahwa dengan mengingat Tuhan, maka hati akan menemui ketenangan. Al-Quran mengingatkan dengan cara yang sangat sederhana agar kita menempatkan Tuhan sebagai pusat dalam kehidupan kita. Orang-orang sufi berusaha untuk membuat dirinya selalu menyadari akan kehadiran Tuhan setiap saat. Apa yang dilakukan oleh orang-orang Islam dengan melakukan shalat lima kali sehari adalah untuk selalu menyadari akan kehadiran Tuhan, sehingga setiap hari fokus kita adalah pada Tuhan.”

Helminski menambahkan bahwa kaum sufi berusaha untuk menjaga pencerahan spiritualnya tanpa melupakan kebutuhan hidup sehari-hari. Kepercayaan kepada Tuhan harus dipelihara setiap saat melalui meditasi, uluran tangan kepada orang lain, musik dan puisi.

Gerakan sufi tidak dimulai oleh seorang pendiri dan pada mulanya tidak merupakan dimensi terpisah dari Islam. Pada abad ke 8, beberapa orang Islam mulai meninggalkan kenikmatan-kenikmatan duniawi pada saat empirium Islam terguyur kemakmuran lewat perdagangan. Mereka berpendapat kepentingan-kepentingan duniawi, jika tidak dijaga pada tingkat minimum, dapat menyingkirkan kecintaan mereka kepada Tuhan dan merusak jiwa mereka.

Orang-orang Muslim ini kemudian muncul sebagai orang-orang sufi yang mempunyai falsafah kesederhanaan, yang mereka anggap merupakan kunci kesejahteraan. Kata “sufi” sendiri dalam Bahasa Arab artinya bulu domba, bahan pakaian mereka, sebagai lambang kesederhanaan, dibanding dengan bahan-bahan sutra dan bahan-bahan halus lain yang dikenakan oleh mereka yang pada waktu itu suka bermewah-mewah.

Tidak semua Muslim mendukung sufisme. Mereka mengatakan ajaran sufisme memberi kesan seolah-olah Islam sendiri kurang mengandung spiritualitas. Ajaran-ajaran lainnya seperti musik dan tari-tarian yang merupakan bagian penting dalam praktik orang-orang sufi, tidak pula disetujui oleh golongan Muslim lainnya.

Kabir Helminski mengatakan banyak Muslim yang tidak menyadari bahwa sufisme dan Islam itu berjalin berkelindan. Katanya,”Tidak semua Muslim mengerti bahwa sufisme pada hakikatnya adalah jantung Islam. Sufisme bukanlah sesuatu yang terpisah dari Islam. Dan dapat dipastikan ini bukan sesuatu yang bertentangan dengan Islam. Tetapi, memang ada orang yang kurang terbuka untuk menerima berbagai tingkatan pengalaman spiritual.”

Penolakan oleh segolongan Muslim tertentu telah memaksa pengikut-pengikut sufi bergerak di bawah tanah, terutama di negara-negara yang diperintah oleh rejim-rejim keras seperti Afghanistan semasa Taliban berkuasa. Sufisme kuat di banyak negara Muslim, terutama di Asia Selatan, Afrika Utara, Eropa dan Asia-Pasifik.

Puisi dan tradisi bercerita merupakan alat pengajaran utama untuk meneruskan pengetahuan kesufian selama berabad-abad. Puisi kesufian, terutama karya filsuf Persia abad ke 13, Jalaluddin Rumi, menjadi sumber inspirasi bagi jutaan umat Islam. Buku-buku Rumi yang banyak tersebar di dunia Barat, termasuk Amerika Serikat sekarang ini, mungkin ikut mendorong kepopuleran sufisme di Barat.

Sheikha Fariha mengatakan bahwa sufisme memenuhi kebutuhan spiritual orang-orang Amerika. "Kami melihat Sufisme mulai berakar kuat dan terbuka di Amerika. Negeri ini menganut kebebasan beragama. Amerika merupakan tempat tumbuh yang alami bagi sufisme, karena Amerika adalah negara yang rakyatnya memiliki kepercayaan-kepercayaan mistik.”

Menurut Prof. Yvonne Haddad dari Universitas Georgetown di Washington, DC, banyak anak muda Amerika yang kehidupan spiritualnya terombang-ambing pada tahun 60-an dulu, masuk Islam, terutama Islam-sufi. Di Amerika, juga terdapat kelompok-kelompok sufi yang berasal dari Muslim imigran dari Asia dan Afrika. Di antara beberapa pusat Sufi di Amerika, menurut Prof. Haddad, yang paling besar adalah Bawwa Muhayyiddin Fellowship yang berpusat di Philadelphia. Lainnya, terdapat di kota-kota seperti Albuquerque, New Mxico, New York, Texas, California dan Michigan.

Diambil dari website www.gusmus.net

Kisah Segenggam Garam

Suatu
ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah
seorang pemuda yang kelihatannya sedang dirundung banyak masalah.
Langkahnya gontai dan air muka sangat kusut. Pemuda itu, memang tampak
seperti orang yang tak bahagia. Kemudian Ia menyampaikan segala keluh
kesahnya pada Pak Tua. Dengan tatapan yang bijak, Pak Tua hanya
mendengarkan dengan seksama, tanpa berkomentar sedikitpun.

Setelah pemuda itu selesai, Pak Tua segera mengambil segenggam garam, dan
meminta
sang
pemuda untuk menyiapkan segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam
gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba, minum ini, dan katakan bagaimana
rasanya.", ujar Pak tua itu. "Pahit. Pahit sekali", jawab sang pemuda,
sambil memuntahkan semua air yang diminumnya. Pak Tua itu, sedikit
tersenyum.

Pak
Tua kemudian mengajak tamunya untuk berjalan ke tepi telaga di dalam
hutan dekat tempat tinggalnya. Sesampainya di telaga, Pak Tua itu lalu
kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan
sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk seakan garam itu
dibuatnya merata ke seluruh telaga.

"Coba
ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Setelah pemuda itu meminumnya,
Pak Tua bertanya lagi, "Bagaimana rasanya?". Pemuda menjawab,"segar".
"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi.
"Tidak", jawab si pemuda.

Dengan
bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si Pemuda. Ia lalu
mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. "Anak
muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam,
tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan
memang akan tetap sama.

"Tapi,
kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang
kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita
meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi,
saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu
hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya.

Pak
Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. "Luasnya hatimu, akan
menawarkan segala kepahitan yang mendatangimu. Janganlah pernah engkau
menolaknya, karena kepahitan itu selalu datang untuk mendewasakanmu,
menyiapkan dirimu tuk menyambut kepahitan berikutnya...

(Diambil dari mailing list Sufi)

Senin, 27 April 2009

Benarkah Kerja itu Ibadah (Buya Hamka)

Saat sedang bekerja, apakah engkau pernah mengajak kawanmu pergi sholat berjemaah, lalu dia menjawab…alah, kerja pun ibadah! Benarlah kerja pun ibadah...tapi ada tahap2 dalam ibadah..mari duduk yang tenang karena sedikit aku ingin bercerita…

Tidaklah Allah ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah.

Ibadah itu terbagi kepada empat tahap:

1. Ibadah tahap NABI
Maksud: Mengajak orang kepada Allah,
Cth: Daqwah, Tabligh, azan, nasihat, ceramah dll
Dalil:: Sesungguhnya Kamu sebaik2 Umat mengajak pd makruf… (al – Quran)

2. Ibadah tahap KHALIFAH
Maksud: berakhlak baik dengan org (makhluk) karena Allah.
Cth: Adil, sedekah, senyum, kasih sayang, hormat dll
Dalil: Sesungguhnya manusia itu dicipta sebagai khalifah (al-Quran)

3. Ibadah tahap MALAIKAT
Maksud: Buat hubungan dengan Allah
Cth: Haji,puasa, solat,zikir,mengaji dll.
Dalil: Manusia dapat mencapai lebih tahap malaikat atau bawah tahap syaithan (hadith)

4. Ibadat tahap BINATANG
Cth: Makan,minum,seks, cari tempat teduh dll.
Dalil: Burung2 keluar perut kosong balik perut penuh sambil berzikir kepada Allah(hadith)

Nah sekarang kau sudah tahu maksud ibadah, memang kerja itu ibadah tapi ibadah tahap binatang, memang wajib dilakukan tapi pandai2 lah kau membagi waktu sebab itulah turun surah ‘demi masa’

Belum juga faham?
Ada seorang sahabat Nabi tengah buat rumah (ibadah tahap binatang) tiba2 dengar azan lalu berhenti : (Ibadat tahap malaikat) walaupun hanya tinggal sebuah batu saja lagi yang akan diletakkan untuk selesaikan rumah itu, lalu org munafik tegur, “kenapa tak selesaikan,satu batu saja lagi…”sahabat tadi tdk lantas marah (ibadah tahap khalifah) dan sambil mendekati org itu “aku takut nanti Allah bertanya di akhirat, mana yang kau lebih utamakan , Allah atau batu?”(ibadat tahap nabi: da'wah) dan ajak org itu pergi ke masjid…

Belum juga faham lagi?
Kalau kau sedang bekerja... itu adalah ibadah tahap binatang, wajib kau cari rezki utuk anak2. Tapi bila sudah dengar azan wajiblah kau pergi ke masjid, itu ibadah tahap malaikat. Dalam perjalanan ada org lemas minta tolong, apabila tak ditolong jadi mayatlah pula nanti dia, maka kau wajib tolong dia ,itu ibadah tahap khalifah dan kau dapati dia org islam dan soheh tak sholat lagi, kau ajak dia sholat berjemaah sekalian....haa …itulah ibadah tahap nabi....bukan mencapai tahap nabi, tetapi ibadah tahap Nabi.

kesimpulannya: Bekerja adalah ibadah tahap Hewan (binatang)

Belum juga faham lagi?
Nanti bila engkau sudah jadi mayat kau pasti faham…insyaAllah.

Kemuliaan.... Buya Hamka

Manusia seringkali mengejar kemuliaan. Sebagian orang menyangka orang yang patut disebut mulia ialah orang yang memiliki harta yang banyak- mobilnya ditukar setiap enam bulan menurut model yang terbaru, bertumpuk-tumpuk harta dan banyak menyimpan uang dalam Bank. Tetapi orang ini tidak segan melakukan kecurangan, korupsi, kecabulan yang orang lain tidak tahu atau seakan-akan tidak tahu karena takut akan menyinggung kemuliaan beliau itu. Begitu juga kata sebagian orang, kemuliaan ialah mendapat gelar dan pangkat kehormatan. Terhias pula bintang di dada. Orang ini pun belum tentu mulia karena kadang-kadang kehormatan dan pangkat diperoleh melalui cara-cara yang tidak terpuji.

Orang yang layak disebut mulia ialah orang yang menang melawan menghadapi nafsunya yang jahat, menegakkan budi pekerti yang mulia untuk kemaslahatan ummat, bangsa dan agama serta manusia keseluruhannya. Ia berusaha memperbaiki dan memperhaluskan budi.

Yang bernama kemuliaan ialah kemuliaan jiwa. Jiwa yang melepaskan diri dari kerendahan dan perhambaan.

Kemuliaan ialah membangunkan umat yang binasa, membuka selubung kebodohan, menuntut hak yang terampas, memberi ingat kemuliaan yang hilang, membangunkan yang lalai dan menyedarkan dari lengah, mempersatukan suara dan meningkatkan semangat. Orang yang sanggup bekerja demikian, itulah orang yang mulia.

Meskipun tempat tinggalnya hanya sebuah pondok buruk, dan pakaian yang sederhana. Walaupun dia hanya makan seadanya, tidur di atas tikar karena miskinnya, mengembara ke hilir ke mudik, ke lurah dan ke bukit.

Jiwa yang demikian cukup untuk menjadi perhiasannya dan cukup menjadi tanda kesempurnaannya.

Itulah hidup yang tenteram dalam hati.

Itulah jasa yang tertulis sepanjang zaman yang selamanya tiadakan pupus.

Ke sanalah kita sekalian harus berlomba “

(Buya Hamka, Falsafah Hidup)

Sabtu, 25 April 2009

99 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman

1. Bersyukur apabila mendapat nikmat;

2. Sabar apabila mendapat kesulitan;

3. Tawakkal apabila mempunyai rencana/program;

4. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;

5. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan;

6. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;

7. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;

8. Jangan usil dengan kekayaan orang;

9. Jangan hasad dan iri atas kesuksessan orang;

10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksesan;

11. Jangan tamak kepada harta;

12. Jangan terlalu ambisius akan sesuatu kedudukan;

13. Jangan hancur karena kezaliman;

14. Jangan goyah karena fitnah;

15. Jangan berkeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri.

16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram;

17. Jangan sakiti ayah dan ibu;

18. Jangan usir orang yang meminta-minta;

19. Jangan sakiti anak yatim;

20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar;

21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil;

22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);

23. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu;

24. Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah di masjid;

25. Biasakan shalat malam (Tahajud) dan shalat sunat Dhuha;

26. Perbanyak dzikir dan do'a kepada Allah;

27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;

28. Sayangi dan santuni fakir miskin, anak yatim dan orang jompo;

29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah;

30. Jangan marah berlebih-lebihan;

31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan;

32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah;

33. Banyaklah belajar, menuntut ilmu dan berlatihlah konsentrasi pikiran;

34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila tidak dapat dipenuhi;

35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syaitan;

36. Jangan percaya ramalan manusia;

37. Jangan terlampau takut miskin;

38. Hormatilah setiap orang;

39. Jangan terlampau takut kepada manusia;

40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala;

41. Berlakulah adil dalam segala urusan;

42. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah;

43. Bersihkan rumah dari patung-patung berhala;

44. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran;

45. Perbanyak silaturrahim;

46. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;

47. Bicaralah secukupnya, yang baik-baik;

48. Beristeri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya;

49. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu;

50. Biasakan hidup bersih, tertib, teratur dan disiplin;

51. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin;

52. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga;

53. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan;

54. Hormatilah kepada guru dan ulama;

55. Sering-sering bershalawat kepada nabi;

56. Cintai keluarga Nabi saw;

57. Jangan terlalu banyak berhutang;

58. Jangan terlampau mudah berjanji;

59. Selalu ingat akan saat kematian dan sadar bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara;

60. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tidak berguna;

61. Bergaul lah dengan orang-orang soleh;

62. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar;

63. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu;

64. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita;

65. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi;

66. Jangan membenci seseorang karena pahaman dan pendiriannya;

67. Jangan benci kepada orang yang membenci kita;

68. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuatu pilihan;

69. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan;

70. Jangan melukai hati orang lain;

71. Jangan membiasakan berkata dusta;

72. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian;

73. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab;

74. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan;

75. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita;

76. Jangan membuka aib orang lain;

77. Lihatlah orang yg lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita;

78. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana;

79. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan (Intropeksi Diri);

80. Jangan sedih karena miskin dan jangan sombong karena kaya;

81. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara;

82. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain;

83. Jangan membuat orang lain menderita dan sengsara;

84. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa;

85. Hargai prestasi dan pemberian orang;

86. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan;

87. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan;

88. Sediakan waktu untuk berolahraga, bersantai dan berekreasi yang sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita;

89. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisikal atau mental kita menjadi terganggu;

90. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana;

91. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan melupakan jasa kita;

92. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu dan jangan berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina;

93. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita sebelum dipastikan kebenarannya;

94. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban;

95. Sambutlah uluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan;

96. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang diluar kemampuan diri;

97. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tantangan. Jangan lari dari kenyataan kehidupan, Hadapilah dengan tenang dan sabar;

98. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan kerusakan;

99. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang;

(sumber :http://auranursyifa.blogspot.com)

Pelajaran yang bisa diambil dari kesabaran

Artikel berikut saya dapatkan dari mailist dan saya posting lagi disini karena menarik untuk dibaca dan direnungi. Catatan penggunaan “saya” dalam cerita merujuk pada penulis email ini, jadi bukan merupakan pengalaman pribadi saya. Selamat membaca.

Beberapa bulan yang lalu di meja pemesanan kamar di sebuah hotel, saya melihat suatu kejadian yang menarik, bagaimana seseorang menghadapi orang yang penuh emosi.

Saat itu pukul 17.00 lebih sedikit, dan hotel sibuk mendaftar tamu-tamu yang baru datang. Orang yang persis di depan saya memberikan namanya kepada pegawai di belakang meja dengan nada memerintah..
Pegawai tersebut berkata, “Ya, Tuan, kami sediakan satu kamar ’single’ untuk Anda.”
“Single?!” bentak orang itu. “Saya memesan double!”

Pegawai tersebut berkata dengan sopan, “Coba saya periksa sebentar.”

Ia menarik permintaan pesanan tamu dari arsip dan berkata, “Maaf, Tuan. Telegram Anda menyebutkan single. Saya akan senang sekali menempatkan Anda di kamar double, kalau memang ada, tetapi semua kamar double sudah penuh.”

Tamu yang berang itu berkata, “Saya tidak perduli apa bunyi kertas itu, saya mau kamar double.”

Kemudian ia mulai bersikap ‘Anda-tahu-siapa- saya’ lalu berkata, “Saya akan usahakan agar Anda di pecat. Anda lihat nanti.. Saya akan buat Anda di pecat.”

Di bawah serangan gencar, pegawai muda tersebut menyela, “Tuan, kami menyesal sekali, tetapi kami bertindak berdasarkan instruksi Anda.”

Akhirnya, sang tamu yang benar-benar marah itu berkata, “Saya tidak akan mau tinggal di kamar yang terbagus di hotel ini sekarang, manajemennya benar-benar buruk.” Lalu ia pun pergi keluar.

Saya menghampiri meja penerimaan tamu sambil berpikir, si pegawai pasti marah setelah baru saja dimarahi habis-habisan. Sebaliknya, ia menyambut semua dengan salam yang ramah sekali, “Selamat malam, Tuan.”

Ketika ia mengerjakan hal yang rutin, yaitu mengatur kamar untuk saya, saya berkata kepadanya, “Saya mengagumi cara Anda mengendalikan diri tadi. Anda benar-benar sabar.”

“Ya, Tuan” katanya. “Saya tidak dapat marah kepada orang seperti itu. Anda lihat, dia sebenarnya bukan marah kepada saya. Saya cuma korban pelampiasan kemarahannya. Orang yang malang tadi mungkin baru saja ribut dengan isterinya, atau bisnisnya mungkin sedang lesu, atau barangkali dia merasa rendah diri, dan ini adalah peluang emasnya untuk melampiaskan kekesalannya. ”

Pegawai tadi menambahkan, “Pada dasarnya dia mungkin orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu.”

Sambil melangkah menuju lift, saya mengulang-ulang perkataannya, Pada dasarnya dia mungkin orang yang sangat baik. Kebanyakan orang begitu.”

Sangat baik untuk direnungkan dan di praktekkan (Sumber : Kumpulan Artikel Tung Desem Waringin)

Secuil kisah tentang awal berdirinya Facebook

Artikel menarik dapet dari forum. Bagus buat pertimbangan yang baru diputus cewe atau cowo, atau ada masalah lain. Supaya tidak mengambil jalan singkat

Joko (bukan nama sebenarnya) ditemukan tergantung kaku di kamar tidurnya. Sang Ibulah yang pertama sekali menemukannya karena curiga sepanjang hari Joko tidak keluar dari kamarnya. Tidak ada tanda-tanda keanehan dalam diri anaknya menurut Sang Ibu. Hanya memang sudah sejak sebulan terakhir Joko sering kepergok lagi murung dan kadang menangis. Sang Ibu tidak menyangka Joko sampai senekat itu mengakhiri hidupnya hanya karena diputus oleh sang kekasih yang akan segera menikah dengan calon pilihan orangtuanya.

Sementara, di tempat lain ada seorang pemuda lagi yang mengalami penolakan dari gadis idamannya. Daripada membiarkan dirinya dicabik-cabik oleh perasaannya, maka ia kemudian melakukan aksi sakit hatinya dengan membuat sebuah situs dengan nama facemash.com alias si wajah perkedel.

Demi mendapatkan foto teman-temannya, khususnya yang cewek. Ia nekat menerobos sistem komputer kampusnya. Lalu hasil perburuannya tersebut diunggah ke dalam situs barunya. Kemudian ia memasang sistem yang membuat setiap pengunjung facemash.com agar dapat memberi peringkat pada setiap cewek.

Akibat perbuatannya, pemuda ini dihukum oleh pihak kampus. Tapi usahanya tidak sia-sia. Popularitas facemash.com langsung melonjak, hanya dalam waktu tiga minggu pertama jumlah mahasiswa yang mendaftar sudah mencapai 4.000 orang. Anda tentu sudah dapat menduga, inilah cikal bakal dari Facebook.com yang kini anggotanya sudah mencapai 116,4 juta orang.

Siapakah pemuda itu? Dialah Zuckerberg yang waktu itu ada di semester II di Harvard. Aksi membalas sakit hati pada gadis yang menolaknya malah memjadikannya seorang triliuner termuda di dunia dengan kekayaan US$1,5 miliar di usianya kini 24 tahun.

Dua kisah di atas memiliki persamaan yaitu pemuda yang sakit hati karena cintanya ditolak. Perbedaan dari kedua kisah di atas adalah yang satu membiarkan pikirannya dikuasai perasaan, sedangkan satunya lagi segera melepaskan belenggu perasaan pada pikirannya.Seringka li seseorang menjadi sakit dan menderita karena membiarkan perasaannya menguasai pikirannya. Tidaklah mengherankan karena pada dasarnya manusia adalah mahluk kinestetik. Salah satu cara agar sembuh dari permasalahan adalah dengan membebaskan pikiran dari perasaan yang membelenggunya.

(Sumber : Kumpulan Artikel Tung desem Waringin)


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Bridal Dresses. Powered by Blogger