Suatu hari, seorang tokoh sufi besar, Ibrahim bin Adham, mencoba untuk memasuki sebuah tempat pemandian umum. Penjaganya meminta wang untuk membayar karcis masuk. Ibrahim menggeleng dan mengaku bahwa ia tak punya wang untuk membeli karcis masuk.
Penjaga pemandian lalu berkata, “Jika engkau tidak punya wang, engkau tak boleh masuk.”
Ibrahim seketika menjerit dan tersungkur ke atas tanah. Dari mulutnya terdengar ratapan-ratapan kesedihan. Para pejalan yang lewat berhenti dan berusaha menghiburnya. Seseorang bahkan menawarinya wang agar ia dapat masuk ke tempat pemandian.
Ibrahim menjawab, “Aku menangis bukan karena ditolak masuk ke tempat pemandian ini. Ketika si penjaga meminta ongkos untuk membayar karcis masuk, aku langsung teringat pada sesuatu yang membuatku menangis. Jika aku tak diizinkan masuk ke pemandian dunia ini kecuali jika aku membayar tiket masuknya, harapan apa yang boleh kumiliki agar diizinkan memasuki surga? Apa yang akan terjadi padaku jika mereka menuntut: Amal salih apa yang telah kau bawa? Apa yang telah kau kerjakan yang cukup berharga untuk boleh dimasukkan ke surga? Sama ketika aku diusir dari pemandian karena tak mampu membayar, aku tentu tak akan diperbolehkan memasuki surga jika aku tak mempunyai amal salih apa pun. Itulah sebabnya aku menangis dan meratap.”
Dan orang-orang di sekitarnya yang mendengar ucapan itu langsung terjatuh dan menangis bersama Ibrahim.
Sumber ; http://azri.free.fr/sufi/ketika_ibrahim.php
Jumat, 01 Mei 2009
Ketika Ibrahim Menangis
Diposting oleh Chandra Wiyana di 18.40 0 komentar
ANTARA SUKMA NURANI DAN SUKMA DHULMANI
ANTARA SUKMA NURANI DAN SUKMA DHULMANI
oleh Jalaluddin Rakhmat
Menurut para sufi, manusia adalah mahluk Allah yang paling
sempurna di dinia ini. Hal ini, seperti yang dikatakan
Ibnu'Arabi manusia bukan saja karena merupakan khalifah Allah
di bumi yang dijadikan sesuai dengan citra-Nya, tetapi juga
karena ia merupakan mazhaz (penampakan atau tempat kenyataan)
asma dan sifat Allah yang paling lengkap dan menyeluruh.
Allah menjadikan Adam (manusia) sesuai dengan citra-Nya.
Setelah jasad Adam dijadikan dari alam jisim, kemudian Allah
meniupkan ruh-Nya ke dalam jasad Adam. Allah berfirman:
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan Aku
tiupkan kepadanya ruh-Ku (QS. 15: 29)
Jadi jasad manusia, menurut para sufi, hanyalah alat, perkakas
atau kendaraan bagi rohani dalam melakukan aktivitasnya.
Manusia pada hakekatnya bukanlah jasad lahir yang diciptakan
dari unsur-unsur materi, akan tetapi rohani yang berada dalam
dirinya yang selalu mempergunakan tugasnya.
Karena itu, pembahasan tentang jasad tidak banyak dilakukan
para sufi dibandingkan pembahasan mereka tentang ruh (al-ruh),
jiwa (al-nafs), akal (al-'aql) dan hati nurani atau jantung
(al-qalb).
RUH DAN JIWA (AL-RUH DAN AL-NAFS)
Banyak ulama yang menyamakan pengertian antara ruh dan jasad.
Ruh berasal dari alam arwah dan memerintah dan menggunakan
jasad sebagai alatnya. Sedangkan jasad berasal dari alam
ciptaan, yang dijadikan dari unsur materi. Tetapi para ahli
sufi membedakan ruh dan jiwa. Ruh berasal dari tabiat Ilahi
dan cenderung kembali ke asal semula. Ia selalu dinisbahkan
kepada Allah dan tetap berada dalam keadaan suci.
Karena ruh bersifat kerohanian dan selalu suci, maka setelah
ditiup Allah dan berada dalam jasad, ia tetap suci. Ruh di
dalam diri manusia berfungsi sebagai sumber moral yang baik
dan mulia. Jika ruh merupakan sumber akhlak yang mulia dan
terpuji, maka lain halaya dengan jiwa. Jiwa adalah sumber
akhlak tercela, al-Farabi, Ibn Sina dan al-Ghazali membagi
jiwa pada: jiwa nabati (tumbuh-tumbuhan), jiwa hewani
(binatang) dan jiwa insani.
Jiwa nabati adalah kesempurnaan awal bagi benda alami yang
organis dari segi makan, tumbuh dan melahirkan. Adapun jiwa
hewani, disamping memiliki daya makan untuk tumbuh dan
melahirkan, juga memiliki daya untuk mengetahui hal-hal yang
kecil dan daya merasa, sedangkan jiwa insani mempunyai
kelebihan dari segi daya berfikir (al-nafs-al-nathiqah).
Daya jiwa yang berfikir (al-nafs-al-nathiqah atau
al-nafs-al-insaniyah). Inilah, menurut para filsuf dan sufi,
yang merupakan hakekat atau pribadi manusia. Sehingga dengan
hakekat, ia dapat mengetahui hal-hal yang umum dan yang
khusus, Dzatnya dan Penciptaannya.
Karena pada diri manusia tidak hanya memiliki jiwa insani
(berpikir), tetapi juga jiwa nabati dan hewani, maka jiwa
(nafs) manusia mejadi pusat tempat tertumpuknya sifat-sifat
yang tercela pada manusia. Itulah sebabnya jiwa manusia
mempunyai sifat yang beraneka sesuai dengan keadaannya.
Apabila jiwa menyerah dan patuh pada kemauan syahwat dan
memperturutkan ajakan syaithan, yang memang pada jiwa itu
sendiri ada sifat kebinatangan, maka ia disebut jiwa yang
menyuruh berbuat jahat. Firman Allah, "Sesungguhnya jiwa yang
demikian itu selalu menyuruh berbuat jahat." (QS. 12: 53)
Apabila jiwa selalu dapat menentang dan melawan sifat-sifat
tercela, maka ia disebut jiwa pencela, sebab ia selalu mencela
manusia yang melakukan keburukan dan yang teledor dan lalai
berbakti kepada Allah. Hal ini ditegaskan oleh-Nya, "Dan Aku
bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela." (QS. 75:2).
Tetapi apabila jiwa dapat terhindar dari semua sifat-sifat
yang tercela, maka ia berubah jadi jiwa yang tenang (al-nafs
al-muthmainnah). Dalam hal ini Allah menegaskan, "Hai jiwa
yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa puas lagi
diridhoi, dan masuklah kepada hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke
dalam Surga-Ku." (QS. 89:27-30)
Jadi, jiwa mempunyai tiga buah sifat, yaitu jiwa yang telah
menjadi tumpukan sifat-sifat yang tercela, jiwa yang telah
melakukan perlawanan pada sifat-sifat tercela, dan jiwa yang
telah mencapai tingkat kesucian, ketenangan dan ketentraman,
yaitu jiwa muthmainnah. Dan jiwa muthmainnah inilah yang telah
dijamin Allah langsung masuk surga.
Jiwa muthmainnah adalah jiwa yang selalu berhubungan dengan
ruh. Ruh bersifat Ketuhanan sebagai sumber moral mulia dan
terpuji, dan ia hanya mempunyai satu sifat, yaitu suci.
Sedangkan jiwa mempunyai beberapa sifat yang ambivalen. Allah
sampaikan, "Demi jiwa serta kesempurnaannya, Allah
mengilhamkan jiwa pada keburukan dan ketaqwaan." (QS.91:7-8).
Artinya, dalam jiwa terdapat potensi buruk dan baik, karena
itu jiwa terletak pada perjuangan baik dan buruk.
AKAL
Akal yang dalam bahasa Yunani disebut nous atau logos atau
intelek (intellect) dalam bahasa Inggris adalah daya berpikir
yang terdapat dalam otak, sedangkan "hati" adalah daya jiwa
(nafs nathiqah). Daya jiwa berpikir yang ada pada otak di
kepala disebut akal. Sedangkan yang ada pada hati (jantung) di
dada disebut rasa (dzauq). Karena itu ada dua sumber
pengetahuan, yaitu pengetahuan akal (ma'rifat aqliyah) dan
pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Kalau para filsuf
mengunggulkan pengetahuan akal, para sufi lebih mengunggulkan
pengetahuan hati (rasa).
Menurut para filsuf Islam, akal yang telah mencapai tingkatan
tertinggi --akal perolehan (akal mustafad)-- ia dapat
mengetahui kebahagiaan dan berusaha memperolehnya. Akal yang
demikian akan menjadikan jiwanya kekal dalam kebahagiaan
(sorga). Namun, jika akal yang telah mengenal kebahagiaan itu
berpaling, berarti ia tidak berusaha memperolehnya. Jiwa yang
demikian akan kekal dalam kesengsaraan (neraka).
Adapun akal yang tidak sempurna dan tidak mengenal
kebahagiaan, maka menurut al-Farabi, jiwa yang demikian akan
hancur. Sedangkan menurut para filsuf tidak hancur. Karena
kesempurnaan manusia menurut para filsuf terletak pada
kesempurnaan pengetahuan akal dalam mengetahui dan memperoleh
kebahagiaan yang tertinggi, yaitu ketika akan sampai ke
tingkat akal perolehan.
HATI SUKMA (QALB)
Hati atau sukma terjemahan dari kata bahasa Arab qalb.
Sebenarnya terjemahan yang tepat dari qalb adalah jantung,
bukan hati atau sukma. Tetapi, dalam pembahasan ini kita
memakai kata hati sebagaimana yang sudah biasa. Hati adalah
segumpal daging yang berbentuk bulat panjang dan terletak di
dada sebelah kiri. Hati dalam pengertian ini bukanlah objek
kajian kita di sini, karena hal itu termasuk bidang kedokteran
yang cakupannya bisa lebih luas, misalnya hati binatang,
bahkan bangkainya.
Adapun yang dimaksud hati di sini adalah hati dalam arti yang
halus, hati-nurani --daya pikir jiwa (daya nafs nathiqah) yang
ada pada hati, di rongga dada. Dan daya berfikir itulah yang
disebut dengan rasa (dzauq), yang memperoleh sumber
pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Dalam kaitan ini Allah
berfirman, "Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan
memahaminya." (QS. 7:1-79).
Dari uraian di atas, dapat kita ambil kesimpulan sementara,
bahwa menurut para filsuf dan sufi Islam, hakekat manusia itu
jiwa yang berfikir (nafs insaniyah), tetapi mereka berbeda
pendapat pada cara mencapai kesempurnaan manusia. Bagi para
filsuf, kesempurnaan manusia diperoleh melalui pengetahuan
akal (ma'rifat aqliyah), sedangkan para sufi melalui
pengetahuan hati (ma'rifat qalbiyah). Akal dan hati sama-sama
merupakan daya berpikir.
Menurut sufi, hati yang bersifat nurani itulah sebagai wadah
atau sumber ma'rifat --suatu alat untuk mengetahui hal-hal
yang Ilahi. Hal ini hanya dimungkinkan jika hati telah bersih
dari pencemaran hawa nafsu dengan menempuh fase-fase moral
dengan latihan jiwa, serta menggantikan moral yang tercela
dengan moral yang terpuji, lewat hidup zuhud yang penuh taqwa,
wara' serta dzikir yang kontinyu, ilmu ladunni (ilmu Allah)
yang memancarkan sinarnya dalam hati, sehingga ia dapat
menjadi Sumber atau wadah ma'rifat, dan akan mencapai
pengenalan Allah Dengan demikian, poros jalan sufi ialah
moralitas.
Latihan-latihan ruhaniah yang sesuai dengan tabiat terpuji
adalah sebagai kesehatan hati dan hal ini yang lebih berarti
ketimbang kesehatan jasmani sebab penyakit anggota tubuh luar
hanya akan membuat hilangnya kehidupan di dunia ini saja,
sementara penyakit hati nurani akan membuat hilangnya
kehidupan yang abadi. Hati nurani ini tidak terlepas dari
penyakit, yang kalau dibiarkan justru akan membuatnya
berkembang banyak dan akan berubah menjadi hati dhulmani
--hati yang kotor.
Kesempurnaan hakikat manusia (nafs insaniyah) ditentukan oleh
hasil perjuangan antara hati nurani dan hati dhulmani. Inilah
yang dimaksud dengan firman Allah yang artinya, "Sesungguhnya
beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya, dan rugilah
orang yang mengotorinya." (QS. 91:8-9).
Hati nurani bagaikan cermin, sementara pengetahuan adalah
pantulan gambar realitas yang terdapat di dalamnya. Jika
cermin hati nurani tidak bening, hawa nafsunya yang tumbuh.
Sementara ketaatan kepada Allah serta keterpalingan dari
tuntutan hawa nafsu itulah yang justru membuat hati-nurani
bersih dan cemerlang serta mendapatkan limpahan cahaya dari
Allah Swt.
Bagi para sufi, kata al-Ghazali, Allah melimpahkan cahaya pada
dada seseorang, tidaklah karena mempelajarinya, mengkajinya,
ataupun menulis buku, tetapi dengan bersikap asketis terhadap
dunia, menghindarkan diri dari hal-hal yang berkaitan
dengannya, membebaskan hati nurani dari berbagai pesonanya,
dan menerima Allah segenap hati. Dan barangsiapa memiliki
Allah niscaya Allah adalah miliknya. Setiap hikmah muncul dari
hati nurani, dengan keteguhan beribadat, tanpa belajar, tetapi
lewat pancaran cahaya dari ilham Ilahi.
Hati atau sukma dhulmani selalu mempunyai keterkaitan dengan
nafs atau jiwa nabati dan hewani. Itulah sebabnya ia selalu
menggoda manusia untuk mengikuti hawa nafsunya. Kesempurnaan
manusia (nafs nathiqah), tergantung pada kemampuan hati-nurani
dalam pengendalian dan pengontrolan hati dhulmani.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abu al-Wafi aI-Taftazani, Maduhal ila al-Tashawwuf al-Islamiy,
Kairo, 1983.
Ahmad Dandy, Allah dan Manusia Dalam Konsepsi Syeikh Nurudin
al-Raniry Jakarta, Rajawali, 1983.
Al-Farabi, Kitab Ara Ahl al-Madinah al-Fadhilah, Kairo, 1906.
Al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, Kairo, 1334 H.
------, Ma'arij al-Quds fi Madarij Ma'rifah al-Nafs, Kairo,
1327 H.
------, Asnan al-Qur'an fi Ihya 'Ulum al-Din, Kairo.
Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme Islam, Bulan Bintang,
Jakarta, 1978.
Muhyiddin Ibnu Arabi, Fushush al-Hikam, Kairo, 1949.
--------------------------------------------
Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah
Editor: Budhy Munawar-Rachman
Penerbit Yayasan Paramadina
Jln. Metro Pondok Indah
Pondok Indah Plaza I Kav. UA 20-21
Jakarta Selatan
Telp. (021) 7501969, 7501983, 7507173
Fax. (021) 7507174
Diposting oleh Chandra Wiyana di 16.47 0 komentar
Kang Sejo Melihat Tuhan (Mohammad Sobary)
GURU
Dalam ilmu othak-athik gathuk-nya orang Jawa, suku kata gu
dari kata guru itu berarti digugu dan ru, artinya ditiru.
Barangkali benar, guru memang digugu (dianut) dan ditiru,
diteladani para murid. Dari sana, barangkali Ki Hajar
Dewantara merumuskan peran guru yang terkenal: ing ngarso
asung tulodo, ing madyo mangun karso, tutwuri handayani itu.
Barangkali dari sana pula pepatah kita "guru kencing
berdiri, murid kencing berlari" itu memperoleh inspirasinya.
Sardono W. Kusumo pernah mengatakan kepada saya bahwa di
masyarakat Jawa, guru tidak harus merupakan sebuah sosok
pribadi, melainkan bisa juga cuma berupa citra atau sosok
bayangan. Dalam sebuah lakon disebutkan, ketika Resi Durna
sedang mengajar para satria Pandawa dan Astina memanah,
seorang satria lain datang hendak berguru memanah kepada
resi tersebut.
"Tidak bisa, ki sanak," sahut Begawan Durna. "Saya sudah
teken kontrak untuk hanya mengajar para satria ini, dan tak
akan lagi pernah menerima murid lain."
Satria itu kemudian pergi dengan rasa kecewa. Namun,
tekadnya untuk berguru kepada Begawan Durna tetap membara.
Citra Durna sebagai guru sakti tak ada duanya sangat
mempengaruhinya.
Syahdan, sang satria pun kemudian membuat patung Pandita
Durna Ia lalu mulai belajar memanah, sambil membayangkan
bahwa ia sedang benar-benar belajar kepada pandita sakti
itu. Dan konon, kehebatan satria ini tak kalah dari para
murid yang belajar dari Durna secara langsung.
Mudah diduga, andaikata Durna menerimanya sebagai murid,
pasti satria itu bakal menjadi murid yang taat kepada guru.
Apa pun perintah sang guru, murid itu pasti akan
mematuhinya. Dengan kata lain, murid itu pasti akan mampu
memanggul tugasnya sebagai murid yang harus senantiasa
membuktikan bahwa guru memang seyogianya digugu lan ditiru.
Tapi, masihkah sekarang ini guru memperoleh kehormatan
sebagai orang tua yang tetap digugu lan ditiru (didengar
petuahnya, ditiru tindakannya?). Zaman berubah. Musim pun
berganti. Dan dalam pergantian itu, kita tiba-tiba
dihadapkan pada kenyataan yang tak lagi sejalan dengan
tafsir ideal tentang guru sebagai yang digugu lan ditiru.
Kita dibuat terkejut oleh sejenis pemberontakan moral dan
penjungkirbalikan tatanan ideal dalam tafsir Jawa tadi. Dan,
kita sepertinya tak siap menghadapi kenyataan ketika guru
bukan cuma tak lagi digugu lan ditiru, melainkan juga
digebuk oleh sang murid.
Kita belum punya jawaban, apa yang mesti kita katakan
sekarang ketika kita melihat murid datang kepada guru sambil
membawa parang, golok, atau belati untuk mengancam sang
guru, ketika gurunya tak bersedia memberinya nilai bagus
atau menaikkannya ke kelas tinggi
Kondisi sosio-psikologis macam apa yang mendorong ada murid
mengamuk melempari kaca dan jendela, merusak sekolah, dan
mengeroyok gurunya sendiri? Apa yang salah dalam diri guru?
Dan, apa sebenarnya yang sedang terjadi dalam masyarakat
kita? Ringkasnya, mengapa kewibawaan guru merosot serendah
itu? Guru-guru berjumpalitan, mencoba berakrobatik untuk
menyesuaikan diri dengan panduan dari pusat. Mereka
tergencet situasi: mengejar target yang besar dari pusat
akan selalu berarti menemui kesulitan dengan murid-muridnya
sendiri, tapi bila ia mencoba memberi murid sedikit
keleluasaan ia akan terbentur dengan atasan.
Guru memang masih tetap disanjung sebagai "pahlawan tanpa
tanda jasa". Ada bahkan yang mengatakan bahwa umumnya tiap
orang besar pernah menjadi guru. Mungkin benar, tapi guru
dalam masyarakat kita sekarang jelas bukan orang besar.
Jadi, apakah gunanya menghibur guru dengan ucapan seperti
itu?
Bagi saya, gelar pahlawan tanpa tanda jasa lebih terasa
ejekan, bukan penghormatan, karena seolah-olah guru memang
tak berhak memperoleh tanda jasa itu.
Guru bukan manusia merdeka. Ia tidak bebas. Ia tidak
mempunyai otonomi dalam memutuskan nasib murid-muridnya,
meskipun tak seorang pun berani membantah bahwa dialah yang
paling tahu tentang kemampuan murid-muridnya.
Orang-tua murid yang tidak tahu ujung pangkal persoalan tak
jarang campur tangan, melakukan intimidasi, atau menyogok
sang guru dengan materi. Ini sekali lagi, membuktikan juga
betapa guru memang bukan orang yang bebas. Ia tak merdeka.
Tampaknya guru, dalam kondisinya, tak bisa berkata tidak
seperti dulu ketika Durna menolak satria, calon murid yang
hendak berguru kepadanya.
Guru-guru tarekat yang tak terikat panduan atasan, yang tak
menggantungkan kurikulum pendidikannya kepada kekuasaan
orang pusat, tampaknya masih memiliki kharisma yang besar di
mata para muridnya. Guru-guru tarekat, dengan kata lain,
masih tetap pengejawantahan dari konsep ideal tentang guru
sebagai yang digugu lan ditiru.
Petuah sang guru tarekat didengarkan. Perintahnya disimak.
"Sabda" mereka disetengahsucikan oleh para murid. Guru
tarekat adalah sejenis raja yang paling berkuasa. Namun,
mereka memperoleh kekuasaannya bukan dengan paksa, melainkan
dengan wibawa.
Begitulah, sejarah yang digali Sartono Kartodirdjo bercerita
kepada kita bahwa sebagian guru tarekat bukan cuma didengar
komando jihatnya untuk menyembelih si kafir Belanda,
melainkan juga dipandang sebagai penjelmaan Ratu Adil yang
bakal mengembalikan harmoni dalam masyarakat serta
menjanjikan ketentraman dan kemakmuran hidup mereka.
Murid-murid tarekat pernah rela mempertaruhkan leher demi
melaksanakan perintah guru. Dan, murid-murid tarekat, sampai
saat ini, rela mencium tangan sang guru, bahkan berebut sisa
makanannya untuk ngalap berkah.
Kemandirian, kebebasan, kharismanya yang besar, dan
keteladanan moralnya itu yang membuat murid tarekat rela
mencium tangan bahkan sungkem, menyembah, di hadapan sang
guru.
---------------
Mohammad Sobary, Jawa Pos, 15 Desember 1991
Diposting oleh Chandra Wiyana di 16.41 0 komentar
Mutiara” Itu Tengah Bersinar di Barat
Mutiara” Itu Tengah Bersinar di Barat
13 April 2009 15:53:58
Oleh: Muhammad Soffa Ihsan
Sisi spiritual Islam ini sering disebut sebagai bunganya Islam. Lembut, introspektif, dan sangat spiritual. Itulah sufisme, tradisi mistik Islam yang mengajarkan cinta-kasih, perdamaian dan toleransi yang bersifat universal. Sheikha Fariha adalah seorang guru sufi terkemuka di kota New York. Ia mengatakan,”Sufisme adalah jantung Islam. Inilah, intisari berlian Islam. Tanpa sufi, Islam tidak lengkap. Islam akan kering.” Menurutnya, inti kandungan kitab suci al-Quran adalah pesan sederhana mengenai cinta-kasih dan rasa syukur kepada Tuhan dan semua mahluk.
Kabir Helminski, seorang pakar sufi yang buku-bukunya telah mempopulerkan Sufisme di Barat, mengatakan al-Quran mendukung pandangan sentral sufisme, bahwa manusia harus senantiasa ingat dan memuji keagungan Tuhan dalam hatinya. Ia mengatakan,”Al Quran menyebutkan tentang pentingnya hati manusia sebagai alat persepsi. Juga dikatakan dalam kitab suci itu bahwa dengan mengingat Tuhan, maka hati akan menemui ketenangan. Al-Quran mengingatkan dengan cara yang sangat sederhana agar kita menempatkan Tuhan sebagai pusat dalam kehidupan kita. Orang-orang sufi berusaha untuk membuat dirinya selalu menyadari akan kehadiran Tuhan setiap saat. Apa yang dilakukan oleh orang-orang Islam dengan melakukan shalat lima kali sehari adalah untuk selalu menyadari akan kehadiran Tuhan, sehingga setiap hari fokus kita adalah pada Tuhan.”
Helminski menambahkan bahwa kaum sufi berusaha untuk menjaga pencerahan spiritualnya tanpa melupakan kebutuhan hidup sehari-hari. Kepercayaan kepada Tuhan harus dipelihara setiap saat melalui meditasi, uluran tangan kepada orang lain, musik dan puisi.
Gerakan sufi tidak dimulai oleh seorang pendiri dan pada mulanya tidak merupakan dimensi terpisah dari Islam. Pada abad ke 8, beberapa orang Islam mulai meninggalkan kenikmatan-kenikmatan duniawi pada saat empirium Islam terguyur kemakmuran lewat perdagangan. Mereka berpendapat kepentingan-kepentingan duniawi, jika tidak dijaga pada tingkat minimum, dapat menyingkirkan kecintaan mereka kepada Tuhan dan merusak jiwa mereka.
Orang-orang Muslim ini kemudian muncul sebagai orang-orang sufi yang mempunyai falsafah kesederhanaan, yang mereka anggap merupakan kunci kesejahteraan. Kata “sufi” sendiri dalam Bahasa Arab artinya bulu domba, bahan pakaian mereka, sebagai lambang kesederhanaan, dibanding dengan bahan-bahan sutra dan bahan-bahan halus lain yang dikenakan oleh mereka yang pada waktu itu suka bermewah-mewah.
Tidak semua Muslim mendukung sufisme. Mereka mengatakan ajaran sufisme memberi kesan seolah-olah Islam sendiri kurang mengandung spiritualitas. Ajaran-ajaran lainnya seperti musik dan tari-tarian yang merupakan bagian penting dalam praktik orang-orang sufi, tidak pula disetujui oleh golongan Muslim lainnya.
Kabir Helminski mengatakan banyak Muslim yang tidak menyadari bahwa sufisme dan Islam itu berjalin berkelindan. Katanya,”Tidak semua Muslim mengerti bahwa sufisme pada hakikatnya adalah jantung Islam. Sufisme bukanlah sesuatu yang terpisah dari Islam. Dan dapat dipastikan ini bukan sesuatu yang bertentangan dengan Islam. Tetapi, memang ada orang yang kurang terbuka untuk menerima berbagai tingkatan pengalaman spiritual.”
Penolakan oleh segolongan Muslim tertentu telah memaksa pengikut-pengikut sufi bergerak di bawah tanah, terutama di negara-negara yang diperintah oleh rejim-rejim keras seperti Afghanistan semasa Taliban berkuasa. Sufisme kuat di banyak negara Muslim, terutama di Asia Selatan, Afrika Utara, Eropa dan Asia-Pasifik.
Puisi dan tradisi bercerita merupakan alat pengajaran utama untuk meneruskan pengetahuan kesufian selama berabad-abad. Puisi kesufian, terutama karya filsuf Persia abad ke 13, Jalaluddin Rumi, menjadi sumber inspirasi bagi jutaan umat Islam. Buku-buku Rumi yang banyak tersebar di dunia Barat, termasuk Amerika Serikat sekarang ini, mungkin ikut mendorong kepopuleran sufisme di Barat.
Sheikha Fariha mengatakan bahwa sufisme memenuhi kebutuhan spiritual orang-orang Amerika. "Kami melihat Sufisme mulai berakar kuat dan terbuka di Amerika. Negeri ini menganut kebebasan beragama. Amerika merupakan tempat tumbuh yang alami bagi sufisme, karena Amerika adalah negara yang rakyatnya memiliki kepercayaan-kepercayaan mistik.”
Menurut Prof. Yvonne Haddad dari Universitas Georgetown di Washington, DC, banyak anak muda Amerika yang kehidupan spiritualnya terombang-ambing pada tahun 60-an dulu, masuk Islam, terutama Islam-sufi. Di Amerika, juga terdapat kelompok-kelompok sufi yang berasal dari Muslim imigran dari Asia dan Afrika. Di antara beberapa pusat Sufi di Amerika, menurut Prof. Haddad, yang paling besar adalah Bawwa Muhayyiddin Fellowship yang berpusat di Philadelphia. Lainnya, terdapat di kota-kota seperti Albuquerque, New Mxico, New York, Texas, California dan Michigan.
Diambil dari website www.gusmus.net
Diposting oleh Chandra Wiyana di 16.29 0 komentar
Kisah Segenggam Garam
Suatu
ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah
seorang pemuda yang kelihatannya sedang dirundung banyak masalah.
Langkahnya gontai dan air muka sangat kusut. Pemuda itu, memang tampak
seperti orang yang tak bahagia. Kemudian Ia menyampaikan segala keluh
kesahnya pada Pak Tua. Dengan tatapan yang bijak, Pak Tua hanya
mendengarkan dengan seksama, tanpa berkomentar sedikitpun.
Setelah pemuda itu selesai, Pak Tua segera mengambil segenggam garam, dan
meminta
sang
pemuda untuk menyiapkan segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam
gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba, minum ini, dan katakan bagaimana
rasanya.", ujar Pak tua itu. "Pahit. Pahit sekali", jawab sang pemuda,
sambil memuntahkan semua air yang diminumnya. Pak Tua itu, sedikit
tersenyum.
Pak
Tua kemudian mengajak tamunya untuk berjalan ke tepi telaga di dalam
hutan dekat tempat tinggalnya. Sesampainya di telaga, Pak Tua itu lalu
kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan
sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk seakan garam itu
dibuatnya merata ke seluruh telaga.
"Coba
ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Setelah pemuda itu meminumnya,
Pak Tua bertanya lagi, "Bagaimana rasanya?". Pemuda menjawab,"segar".
"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi.
"Tidak", jawab si pemuda.
Dengan
bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si Pemuda. Ia lalu
mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. "Anak
muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam,
tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan
memang akan tetap sama.
"Tapi,
kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang
kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita
meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi,
saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu
hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya.
Pak
Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. "Luasnya hatimu, akan
menawarkan segala kepahitan yang mendatangimu. Janganlah pernah engkau
menolaknya, karena kepahitan itu selalu datang untuk mendewasakanmu,
menyiapkan dirimu tuk menyambut kepahitan berikutnya...
(Diambil dari mailing list Sufi)
Diposting oleh Chandra Wiyana di 15.47 0 komentar
Senin, 27 April 2009
Benarkah Kerja itu Ibadah (Buya Hamka)
Saat sedang bekerja, apakah engkau pernah mengajak kawanmu pergi sholat berjemaah, lalu dia menjawab…alah, kerja pun ibadah! Benarlah kerja pun ibadah...tapi ada tahap2 dalam ibadah..mari duduk yang tenang karena sedikit aku ingin bercerita…
Tidaklah Allah ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah.
Ibadah itu terbagi kepada empat tahap:
1. Ibadah tahap NABI
Maksud: Mengajak orang kepada Allah,
Cth: Daqwah, Tabligh, azan, nasihat, ceramah dll
Dalil:: Sesungguhnya Kamu sebaik2 Umat mengajak pd makruf… (al – Quran)
2. Ibadah tahap KHALIFAH
Maksud: berakhlak baik dengan org (makhluk) karena Allah.
Cth: Adil, sedekah, senyum, kasih sayang, hormat dll
Dalil: Sesungguhnya manusia itu dicipta sebagai khalifah (al-Quran)
3. Ibadah tahap MALAIKAT
Maksud: Buat hubungan dengan Allah
Cth: Haji,puasa, solat,zikir,mengaji dll.
Dalil: Manusia dapat mencapai lebih tahap malaikat atau bawah tahap syaithan (hadith)
4. Ibadat tahap BINATANG
Cth: Makan,minum,seks, cari tempat teduh dll.
Dalil: Burung2 keluar perut kosong balik perut penuh sambil berzikir kepada Allah(hadith)
Nah sekarang kau sudah tahu maksud ibadah, memang kerja itu ibadah tapi ibadah tahap binatang, memang wajib dilakukan tapi pandai2 lah kau membagi waktu sebab itulah turun surah ‘demi masa’
Belum juga faham?
Ada seorang sahabat Nabi tengah buat rumah (ibadah tahap binatang) tiba2 dengar azan lalu berhenti : (Ibadat tahap malaikat) walaupun hanya tinggal sebuah batu saja lagi yang akan diletakkan untuk selesaikan rumah itu, lalu org munafik tegur, “kenapa tak selesaikan,satu batu saja lagi…”sahabat tadi tdk lantas marah (ibadah tahap khalifah) dan sambil mendekati org itu “aku takut nanti Allah bertanya di akhirat, mana yang kau lebih utamakan , Allah atau batu?”(ibadat tahap nabi: da'wah) dan ajak org itu pergi ke masjid…
Belum juga faham lagi?
Kalau kau sedang bekerja... itu adalah ibadah tahap binatang, wajib kau cari rezki utuk anak2. Tapi bila sudah dengar azan wajiblah kau pergi ke masjid, itu ibadah tahap malaikat. Dalam perjalanan ada org lemas minta tolong, apabila tak ditolong jadi mayatlah pula nanti dia, maka kau wajib tolong dia ,itu ibadah tahap khalifah dan kau dapati dia org islam dan soheh tak sholat lagi, kau ajak dia sholat berjemaah sekalian....haa …itulah ibadah tahap nabi....bukan mencapai tahap nabi, tetapi ibadah tahap Nabi.
kesimpulannya: Bekerja adalah ibadah tahap Hewan (binatang)
Nanti bila engkau sudah jadi mayat kau pasti faham…insyaAllah.
Diposting oleh Chandra Wiyana di 08.15 0 komentar
Kemuliaan.... Buya Hamka
Orang yang layak disebut mulia ialah orang yang menang melawan menghadapi nafsunya yang jahat, menegakkan budi pekerti yang mulia untuk kemaslahatan ummat, bangsa dan agama serta manusia keseluruhannya. Ia berusaha memperbaiki dan memperhaluskan budi.
Yang bernama kemuliaan ialah kemuliaan jiwa. Jiwa yang melepaskan diri dari kerendahan dan perhambaan.
Kemuliaan ialah membangunkan umat yang binasa, membuka selubung kebodohan, menuntut hak yang terampas, memberi ingat kemuliaan yang hilang, membangunkan yang lalai dan menyedarkan dari lengah, mempersatukan suara dan meningkatkan semangat. Orang yang sanggup bekerja demikian, itulah orang yang mulia.
Meskipun tempat tinggalnya hanya sebuah pondok buruk, dan pakaian yang sederhana. Walaupun dia hanya makan seadanya, tidur di atas tikar karena miskinnya, mengembara ke hilir ke mudik, ke lurah dan ke bukit.
Jiwa yang demikian cukup untuk menjadi perhiasannya dan cukup menjadi tanda kesempurnaannya.
Itulah hidup yang tenteram dalam hati.
Itulah jasa yang tertulis sepanjang zaman yang selamanya tiadakan pupus.
Ke sanalah kita sekalian harus berlomba “
(Buya Hamka, Falsafah Hidup)
Diposting oleh Chandra Wiyana di 07.58 0 komentar